author: | publisher: drg. Andreas Tjandra, Sp. Perio, FISID
Bulimia nervosa adalah gangguan makan sehingga penderitanya jadi makan makanan terlalu banyak tapi kemudian memuntahkannya lagi. Penyebab gangguan ini meliputi faktor psikologis, sosial, dan genetik.
Dampak buruk bulimia nervosa pada gigi
Bulimia nervosa berdampak buruk bagi kesarasan gigi dan mulut.
Mulut kering
Erosi gigi
Gigi sensitif
Karies gigi
Kerentanan gigi terhadap pembentukan lubang gigi jadi meningkat
Tenggorokan kering kronis
Suara serak
Gigi berdarah atau gusi nyeri
Sulit menelan atau sakit menelan
Kerusakan langit-langit mulut
Pembesaran kelenjar saliva
Penurunan produksi air liur
Rahang jadi tidak rata
Gigi patah, retak, atau copot
Kesulitan mengunyah
Kerusakan esofagus
Perawatan gigi
Perawatan sebagai solusi jangka pendek dan mendesak bisa dilakukan. Contohnya, menambal gigi berlubang, memperbaiki gigi patah, merawat gusi berdarah, dsb. Tapi, apabila bulimia yang jadi penyebab kondisi gigi memburuk itu tidak ditangani, maka solusi jangka pendek itu akan betul-betul jangka pendek. Pasien akan mengalami lagi perkara gigi berulang lagi dan lagi.
Berhubung akar perkara dari kondisi kesarasan gigi yang buruk adalah kondisi jiwa dan kondisi kesarasan umum pasien, bukan pada gigi itu sendiri, maka penanganan tuntas perkara harus melibatkan dokter dan bahkan psikiater. Dokter gigi saja tidak cukup.
Gigi untuk mendeteksi bulimia nervosa
Berbeda dengan anorexia nervosa, bulimia nervosa lebih sulit dikenali. Badan pasien juga tampak normal, tidak seperti anorexia. Walau begitu, bulimia bisa dikenali dari kondisi gigi pasien. Dokter gigi bisa mendeteksi bulimia nervosa dengan mengamati kondisi gigi pasien.
Kenapa bisa?
Setiap kali pasien muntah, ia mengeluarkan getah lambung dengan pH asam. Muntah sekali atau dua kali tidak merusak gigi. Tapi berulangkali muntah membuat gigi jadi berulangkali kena asam. Dampaknya, gigi jadi mengalami erosi gigi karena terkena asam. Arah asam dari dalam lambung ke luar mulut. Ini menyebabkan gigi bagian dalam (lingual) jadi terpapar asam lebih banyak daripada gigi bagian luar (labial). Dokter gigi selanjutnya dapat menginformasikan kondisi pasien itu kepada dokter keluarga pasien apabila prakara itu belum teramati oleh dokter umum yang menangani pasien.
Erosi gigi bagian dalam karena asam lambung dari dari dalam ke luar sehingga merusak gigi pada sisi dalam (lingual).