Karakteristik partikel aerosol / abab (1)
author: Purnima S Kumar, Kumar Subramanian | publisher: drg. Andreas Tjandra, Sp. Perio, FISID
Dalam upaya untuk menetapkan konteks guna meninjau literatur tentang abab denta (aerosol gigi), kita mulai tinjauan ini dengan memeriksa alasan mengapa definisi abab sangat beragam. Lumrahnya, abab mengacu pada partikel suspensi dalam gas. Meskipun abab bisa terjadi dari banyak peristiwa, seperti pembakaran, penguapan, pekerjaan industri, dll, kami di sini akan fokus pada abab yang timbul dalam lingkungan perawatan kesarasan.
Pada tahun 1934, Wells memelopori konsep bahwa lewat infeksi udara bisa ditularkan melalui puncratan (droplet) atau pun melalui abab (aerosol). Menurut karya penelitiannya, puncratan didefinisikan sebagai partikel dengan ukuran > 5 μm dan biasanya dibawa oleh koloid berat seperti lendir atau saliva (air liur). Puncratan tidak dapat terus-terusan tersuspensi di udara untuk jarak jauh atau perjalanan jauh, oleh karena itu, puncratan menyebarkan infeksi melalui kontak dekat dengan dan di hadapan inangnya, biasanya pada jarak 1 meter. Namun, menurut Wells, puncratan dengan partikel berukuran < 100 μm mengering di udara sebelum jatuh ≈2 m ke tanah. Ketika tetesan ini menguap, puncratan kering itu dapat dibawa oleh vektor udara dan berubah menjadi abab (aerosol).
Dia memperkirakan ukuran partikel < 5 μm (kadang-kadang disebut inti puncratan) dan menyatakan bahwa partikel-partikel ini dapat tetap mengudara untuk jangka kala yang lama, membawa patogen hidup sebagai penumpangnya dan menetap di permukaan yang jauh dari sumbernya (yang kemudian disebut sebagai fomite). Vektor dapat yamak, yaitu, halimun, kabut, dan uap atau antropogenik, contohnya, asap, debu, asap, dan sangat penting bagi kita, abab gigi (aerosol gigi). Namun, dalam kasus tertentu, contohnya, suhu sekitar tinggi atau aliran udara tinggi, puncratan besar juga bisa menguap dan berubah watak jadi seperti abab/ aerosol. Karena ukurannya, puncratan besar dapat membawa muatan yang lebih besar daripada inti puncratan (lihat di bawah).
Aerosol juga telah diklasifikasikan berdasarkan pola deposisinya. Contohnya, menggunakan model semi-empiris, Komisi Internasional tentang Pireksan Radiologi (ICRP) memperkirakan bahwa ...
Serial posts:
-
Mengusir kabut: Sumber bio-beban mikroba dalam abab denta (dental aerosol)
-
Pendahuluan : bio-beban mikroba dalam abab denta (dental aerosol)
-
Karakteristik partikel aerosol / abab (1)
-
Karakteristik partikel aerosol / abab (2)
-
Karakteristik partikel aerosol / abab (3)
-
Metode untuk meneliti aerosol (abab)
-
Rongga mulut sebagai reservoir untuk virus dalam kesarasan dan penyakit
-
Pembentukan abab/ aerosol selama aktivitas fisiologis
-
Rongga mulut sebagai inang untuk patogen bakteri ambekan (respiratory bakterial patheogens)
-
Prosedur medis/ dental pembuat abab / aerosol (AGMP & AGDP) (1)
-
Air liur sumber utama patogen dalam abab / aerosol gigi? (1)
-
Ludah sumber primer patogen dalam abab/ aerosol gigi? (2)
-
Penularan penyakit ke personel perawatan & pasien gigi
-
Ringkasan & simpulan
-
Prosedur medis/ dental pembuat abab / aerosol (AGMP & AGDP) (2)
Pada tahun 1934, Wells memelopori konsep bahwa lewat infeksi udara bisa ditularkan melalui puncratan (droplet) atau pun melalui abab (aerosol). Menurut karya penelitiannya, puncratan didefinisikan sebagai partikel dengan ukuran > 5 μm dan biasanya dibawa oleh koloid berat seperti lendir atau saliva (air liur). Puncratan tidak dapat terus-terusan tersuspensi di udara untuk jarak jauh atau perjalanan jauh, oleh karena itu, puncratan menyebarkan infeksi melalui kontak dekat dengan dan di hadapan inangnya, biasanya pada jarak 1 meter. Namun, menurut Wells, puncratan dengan partikel berukuran < 100 μm mengering di udara sebelum jatuh ≈2 m ke tanah. Ketika tetesan ini menguap, puncratan kering itu dapat dibawa oleh vektor udara dan berubah menjadi abab (aerosol).
Dia memperkirakan ukuran partikel < 5 μm (kadang-kadang disebut inti puncratan) dan menyatakan bahwa partikel-partikel ini dapat tetap mengudara untuk jangka kala yang lama, membawa patogen hidup sebagai penumpangnya dan menetap di permukaan yang jauh dari sumbernya (yang kemudian disebut sebagai fomite). Vektor dapat yamak, yaitu, halimun, kabut, dan uap atau antropogenik, contohnya, asap, debu, asap, dan sangat penting bagi kita, abab gigi (aerosol gigi). Namun, dalam kasus tertentu, contohnya, suhu sekitar tinggi atau aliran udara tinggi, puncratan besar juga bisa menguap dan berubah watak jadi seperti abab/ aerosol. Karena ukurannya, puncratan besar dapat membawa muatan yang lebih besar daripada inti puncratan (lihat di bawah).
Aerosol juga telah diklasifikasikan berdasarkan pola deposisinya. Contohnya, menggunakan model semi-empiris, Komisi Internasional tentang Pireksan Radiologi (ICRP) memperkirakan bahwa ...
- Mengusir kabut: Sumber bio-beban mikroba dalam abab denta (dental aerosol)
- Pendahuluan : bio-beban mikroba dalam abab denta (dental aerosol)
- Karakteristik partikel aerosol / abab (1)
- Karakteristik partikel aerosol / abab (2)
- Karakteristik partikel aerosol / abab (3)
- Metode untuk meneliti aerosol (abab)
- Rongga mulut sebagai reservoir untuk virus dalam kesarasan dan penyakit
- Pembentukan abab/ aerosol selama aktivitas fisiologis
- Rongga mulut sebagai inang untuk patogen bakteri ambekan (respiratory bakterial patheogens)
- Prosedur medis/ dental pembuat abab / aerosol (AGMP & AGDP) (1)
- Air liur sumber utama patogen dalam abab / aerosol gigi? (1)
- Ludah sumber primer patogen dalam abab/ aerosol gigi? (2)
- Penularan penyakit ke personel perawatan & pasien gigi
- Ringkasan & simpulan
- Prosedur medis/ dental pembuat abab / aerosol (AGMP & AGDP) (2)